Kumpulan referensi ilmu akuntansi

Bahan Bukti Audit

Program audit merupakan prosedur pengarahan tertulis yang dirancang untuk memperoleh bukti atau informasi yang relatif dapat dipercaya untuk mencapai tujuan audit
          Pedoman pemeriksaan/mengurangi risiko lupa
           Sebagai pedoman kerja
           untuk mengorganisasikan kertas kerja
           sebagai catatan pertanggung jawaban pelaksanaan setiap bagian program sampai lengkap

Bahan Bukti Hukum Hubungan dengan Bahan Bukti Audit
          Bahan bukti hukum dan bahan bukti audit memiliki banyak kesamaan. Keduanya memiliki tujuan yang sama—untuk memberikan bukti, untuk mendorong keyakinan tentang kebenaran atau kesalahan setiap pernyataan atas suatu masalah. Keyakinan dibangun dari pertimbangan atas informasi. Informasi tersebut yang kemudian disajikan, dalam bentuk apa pun, merupakan bahan bukti.
          Fokus bahan bukti audit sedikit berbeda dari bahan bukti hukum. Bukti-bukti hukum sangat mengandalkan pengakuan lisan. Bukti-bukti audit lebih mengandalkan bukti-bukti dokumen. Bukti-bukti hukum memungkinkan pernyataan-pernyatan tertentu, misalnya dalam hukum dinyatakan bahwa fakta-fakta yang tertera pada instrumen tertulis antara pihak-pihak yang berkepentingan adalah benar (artinya tidak ada bukti lain, seberapa pun kuatnya, yang bisa menentang kebenaran dari fakta tertulis tersebut). Tetapi auditor tidak dibatasi pada anggapan atau pernyataan tertentu; mereka harus mempertanyakan setiap bukti hingga mereka sendiri puas dengan kebenaran atau kesalahannya.
          Auditor internal harus mengetahui bentuk-bentuk bahan bukti hukum. Pengetahuan ini akan bermanfaat bagi mereka dalam kasus kecurangan, dalam situasi apa saja yang mereka perlu mengumpulkan fakta-fakta untuk penasihat hukum, dan bahkan dalam pekerjaan audit rutin mereka..

Bahan Bukti Terbaik
Ø  Bahan bukti terbaik, sering disebut bahan bukti primer, merupakan bahan bukti yang paling alami—bukti yang paling memuaskan mengenai fakta-fakta yang tengah diselidiki. Bahan bukt tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan keandalan. Umumnya bukti tersebut terbatas pada bukti dokumen dan diterapkan kebanyakan untuk membuktikan isi pernyataan tertulis. Jika tersedia pernyataan tertulis yang asli, aturan tentang bahan bukti terbaik mencegah salah satu pihak membuktikan isi pernyataan tertulis melalui pengakuan lisan.
Ø  Aturan tersebut dirancang untuk menutup kemungkinan terjadinya interpretasi yang salah atas pernyataan tertulis; karena mengharuskan tersedianya dokumen asli bila tersedia. Bukti lisan, misalnya, tidak boleh digunakan untuk memperselisihkan instrumen tertulis seperti kontrak atau akta; tetapi, bukti lisan bisa digunakan untuk menjelaskan makna instrumen tersebut jika instrumen seperti ini memungkinkan terjadinya lebih dari satu interpretasi.

Bahan Bukti Sekunder
          Bahan bukti sekunder berada di bawah bukti primer dan tidak bisa disamakan keandalannya. Bukti sekunder bisa mencakup salinan bukti tertulis atau lisan. Sebuah salinan tertulis umumnya dapat diterima, jika (1) dokumen asli hilang atau telah dimusnahkan tanpa niat melakukan kecurangan di pihak pendukung salinan tersebut; (2) bukti tertulis tersebut sulit diperoleh oleh pendukung salinan melalui proses hukum atau cara-cara lainnya; atau (3) bukti tertulis dikendalikan oleh entitas publik. Harus ditunjukkan bahwa salinan tersebut merupakan representasi yang layak dari dokumen asli.
          Pengakuan lisan atau risalah tertulis umumnya dianggap berada di bawah salinan dokumen tertulis. Bentuk bahan bukti yang inferior ini tidak dibatasi oleh aturan bahan bukti terbaik jika (1) bukti tertulis terdiri dari beberapa akun atau bukti tertulis lainnya; (2) akun-akun tersebut tidak bisa diperiksa di pengadilan tanpa menghabiskan banyak waktu; atau 3) akun-akun atau bukti tertulis lainnya dihasilkan untuk diperiksa oleh pihak yang berlawanan jika kebijakan pengadilan mengharuskan.

Bahan Bukti Langsung
Ø  Bahan bukti langsung membuktikan fakta tanpa harus menggunakan pernyataan atau rujukan untuk menetapkan suatu bukti. Pengakuan dari seorang saksi atas sebuah fakta merupakan bahan bukti langsung—tidak dibutuhkan rujukan. Misalnya, seorang saksi yang menyatakan bahwa ia mengobservasi seorang karyawan pemeriksa penerimaan barang menandatangani berkas pemeriksaan, padahal barang yang diterima kurang dari yang tertera di berkas tersebut, merupakan bahan bukti tertulis.

Bahan Bukti Tidak Langsung
          Bahan bukti tidak langsung membuktikan fakta sementara, atau sekumpulan fakta, yang bisa dirujuk seseorang untuk mengetahui keberadaan beberapa fakta primer yang signifikan atas masalah yang sedang dipertimbangkan. Bahan bukti ini tidak langsung membuktikan keberadaan fakta-fakta primer, tetapi hanya meningkatkan penggunaan pemikiran logis yang ada. Penerimaan barang yang kurang dari jumlah seharusnya tetapi lolos pemeriksaan departemen penerima, disertai stempel pemeriksaan pada memo penerimaan, merupakan bahan bukti tidak langsung bahwa si pemeriksa telah lalai.
          Auditor internal harus senantiasa berhati-hati dengan bahan bukti tidak langsung. Misalnya, dalam kasus petugas pemeriksa tadi, mungkin saja ia sedang tidak bertugas pada hari barang diterima dan orang lain menggunakan stempelnya.

Ø  Bahan bukti yang meyakinkan merupakan bahan bukti yang tak terbantahkan, apa pun bentuknya. Bahan bukti ini sangat kuat sehingga mengalahkan semua bahan bukti yang lain, dan merupakan sumber diambilnya kesimpulan. Bahan bukti ini tidak bisa dipertentangkan dan tidak membutuhkan bukti-bukti yang menguatkan. Seperti yang dikatakan Thoreau, “Beberapa bahan bukti tidak langsung bersifat sangat kuat, seperti ketika Anda menemukan ikan di dalam susu.” Sangat jelas bisa dikatakan bahwa ikan tersebut tidak berasal dari seekor sapi.

Bahan Bukti yang Menguatkan
          Berdasarkan aturan opini, saksi-saksi harus memberikan kesaksian hanya terhadap fakta yang adapada apa yang benar-benar mereka lihat atau dengar. Sebaliknya auditor harus menyaring opini dan mengumpulkan serta mengevaluasi fakta-fakta sematahal-hal yang cenderung membuktikan kebenaran atau kesalahannya. Opini yang diberikan orang lain bisa bermanfaat sebagai penunjuk jalan yang benar untuk mengumpulkan fakta, tetapi opini juga bisa bias, mementingkan kepentingan sendiri, atau kurang mengandung informasi.

Bahan Bukti Opini
Ø  Untuk pengakuan berupa opini telah dibuat beberapa pengaman dengan mengharuskan hadirnya dua elemen: Pertama, subjek yang dinyatakan opininya harus jelas terkait dengan pengetahuan, profesi, bisnis, atau jabatan yang berada di luar pemahaman orang awam. Kedua, saksi ahli harus memiliki keahlian, pengetahuan, atau pengalaman dalam bidang tersebut sehingga bisa membantu anggota juri atau pengadilan dalam mencari kebenaran.

Bahan Bukti Audit Sifat Bahan Bukti Audit
Ø  Bahan bukti audit adalah informasi yang diperoleh auditor internal dengan mengamati atas suatu kondisi, mengadakan tanya jawab, dan memeriksa catatan. Bahan bukti audit harus memberikan pijakan bagi opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bahan bukti audit terdiri atas bahan bukti fisik, pengakuan, dokumen, dan analitis.

Bahan bukti Fisik
          Bahan bukti fisik diperoleh dengan mengamati orang, properti, dan kejadian. Bahan bukti ini bisa berbentuk pernyataan observasi oleh pengamat, atau oleh foto, bagan, peta, grafik, atau gambar-gambar lainnya. Bahan bukti grafik bersifat persuasif.

Bahan Bukti Pengakuan
Ø  Bahan bukti pengakuan berbentuk surat atau pernyataan sebagai jawaban atas pertanyaan. Bahan bukti ini sendiri tidak bersifat menyimpulkan; masih harus didukung oleh dokumentasi jika dimungkinkan. Pernyataan klien bisa menjadi penuntun penting yang tidak selalu bisa diperoleh dalam pengujian audit yang independen

Bahan bukti Dokumen
          Bahan bukti dokumen merupakan bentuk bahan bukti audit yang paling biasa. Dokumen bisa eksternal maupun internal. Bahan bukti dokumen eksternal mencakup surat atau memorandum yang diterima oleh klien, faktur-faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan. Bahan bukti dokumen internal dibuat dalam organisasi klien, mencakup catatan akuntansi, salinan korespondensi ke pihak luar, laporan penerimaan melalui e-mail, dan lain-lain.
          Sumber bahan bukti dokumen akan memengaruhi keandalannya. Sebuah dokumen eksternal yang dipreoleh langsung dari sumbernya (sebuah konfirmasi, misalnya) lebih andal dibandingkan dokumen yang didapat dari klien. Selalu ada kemungkinan bahwa dokumen internal tersebut diubah, misalnya melalui program komputer rahasia. Masalah lain yang memengaruhi keandalan mencakup sirkulasi dokumen melalui pihak-pihak lain (cek yang dibatalkan, prosedur pemeriksaan internal yang memuaskan, dan bukti lain yang menguatkan).

Bahan Bukti Analitis
Ø  Bahan bukti analitis berasal dari analisis dan verifikasi. Sumber-sumber bahan bukti ini adalah perhitungan: perbandingan dengan standar yang ditetapkan, operasi masa lalu, operasi yang serupa, dan hukum atau regulasi; pertimbangan kewajaran; dan informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil.

Demikian Bahan Bukti Audit semoga dapat bermanfaat untuk semuanya.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori bukti audit dengan judul Bahan Bukti Audit. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://referensiakuntansi.blogspot.com/2012/07/bahan-bukti-audit.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: dodi tris - Kamis, 12 Juli 2012

1 Komentar untuk "Bahan Bukti Audit"